 |
| Review - Paris : Aline by Prisca Primasari |
bibliophile_ - Ini ketiga kalinya saya baca tulisan karya Kak Prisca Primasari. Yang pertama tentu aja Eclair, terus Kastil Es dan Air Mancur yang
Berdansa, (dan sementara lagi baca novel GagasDuet-nya dengan Kak
Sefryana Khairil yang berjudul ‘Beautiful Mistakes’).
Novel ini mengambil setting tempat yang hampir sama dengan novel
keduanya yaitu Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa. Seperti judulnya,
Prisca mengambil setting di kota paling romantis di dunia yaitu, Paris.
Awalnya saya pengen beli novel ini karena saya memang penggemar
tulisan-tulisan Kak Prisca, karena judulnya yang udah pasti setting di
Paris, ada postcard-nya yang keren abis, salah satu proyek GagasMedia
& Bukune yang berstempel setiap tempat punya cerita dan review
orang-orang yang bagus-bagus.
Jadi ceritanya, buku ini sengaja
dibikin dengan tema diary. Novel ini mempunyai prolog, epilog dan 12 bab
yang dibuka dengan keterangan hari, tanggal dan tahun, pilihan mood,
dan sebuah sketsa tempat-tempat yang ada di Paris. Format seperti ini
membuat kita lebih dekat dengan di tokoh utama dan sekaligus membuat
cerita sangat mengalir.
Aline—si tokoh utama dicerita ini—adalah
cewek Indonesia yang kuliah di Paris karena ingin memenuhi keinginan
mendiang ayahnya yang meninggal. Meskipun Aline kuliah di tempat yang
sangat fenomenal tapi Aline merasa ingin pulang ke Indonesia karena
banyak alasan, salah satunya adalah karena “ubur-ubur” yang dia taksir
justru jadian dengan teman kerjanya. Hingga suatu hari, Aline menemukan
pecahan porselen yang membawanya ke dunia makhluk unik bernama Aeolus
Sena. Aline kemudian menghubungi Aeolus Sena, kemudian mereka janjian
bertemu di Bastille yang jelas-jelas adalah bekas penjara, pukul 12
malam. Selain itu, Aeolus Sena juga mengajak Aline mendatangi
tempat-tempat seperti pemakaman Père Lachaise yang konon berhantu. Tapi,
Aeolus Sena bukan orang yang tidak punya terimakasih Aline diberi tiga
permintaan yang akan dikabulkan oleh Sena karena telah menemukan pecahan
porselen itu.
Untuk permintaan pertama Aline meminta agar bisa pulang ke Indonesia dan bertemu dengan ibunya.
Sena menawarkan pilihan lain, ibu Aline yang datang ke Paris dan dia
memberikan segepok uang. Aline tidak mempercayainya, apalagi mendengar
pekerjaannya sebagai tukang reparasi mesin tik, lalu selalu datang dan
pergi secara mencurigakan dan mempunyai hubungan misterius dengan
tetangganya Aline yang juga berasal Indonesia, Ezra. Permintan
kedua, Aline memnita agar “ubur-ubur” harus putus dengan pacarnya
gimanapun caranya yang entah diiyakan atau tidak oleh Sena. Dan permintaan ketiga (yang bikin saya agak suprised) adalaaahh Aline meminta untukk ******* (silahkan baca sendiri novelnya) wkwkwk!
Cerita
yang mengalir bikin saya ketagihan untuk baca bab baru lagi dan lagi.
Sensasi Parisnya terasa dari ungkapan-ungkapan dalam bahasa Perancis dan
tempat-tempat yang tokoh-tokoh kunjungi.
Namun, walaupun cerita
Aline dan Sena ini begitu mengalir, ada beberapa hal yang bikin kening
aku mengerut. Apalagi saat tahu alasan sebenarnya kenapa kehadiran Sena
begitu misterius. Untungnya novel ini cukup pendek dan ceritapun
berakhir with a happy and sweet ending :D Hal lain yang bikin aku
bingung adalah Aline tidak terlalu excited tinggal dan berkegiatan di
Paris. Tidak seperti novel yang bersetting luar negeri lain yang
menceritakan hebatnya tinggal di Eropa dan bikin para pembaca pengen ke
sana. Tokoh Aline disini terlihat normal. Normal untuk menjadi orang non
Eropa untuk kangen dengan negara aslinya, normal untuk mengakui bahwa
di setiap negara pun pasti ada kerugian dan normal untuk membuat setiap
tempat menjadi istimewa karena orang yang bersama kita :D
At
last, Paris atau Paris: Aline (apakah nanti ada Aline: Sena atau Paris:
Ezra?) menawarkan sebuah cerita yang unik dan manis. Tak hanya
memperlihatkan keindahan Paris tapi juga mengingatkan Indonesia, negara
asal kita yang tidak akan pernah bisa dilupakan, apapun yang terjadi.
Yang pasti, buku ini high recommended banget :D





